Kunjungan Bapak Presiden SBY ke Besakih mudah-mudahan membawa dampak positif bagi Kunjungan Wisatawan Mancanegara maupan wisatawan Domestik ke ODTW Besakih.Yang selama ini sempet mati suri ulah beberapa oknum Biro perjalanan yang mengalihkan kunjungan ke pura Besakih ke tempat lain,dengan beragam alasan dari mereka.Mungkin itu sah-sah saja,tapi apa jadinya kalau Mereka tahu kalau sebenernya di bohongi.apakah ini tidak akan menimbulkan permasalahan baru dalam Kepariwisataan di Bali.Kami mengakui beberapa kekurangan maupun kekeliruan sebagai masyarakat lokal di dalam melakukan Pelayanan Jasa Wisata.Tapi hendaknya hal ini bisa kita bicarakan sesama Pelaku Wisata yang notabena sama-sama tahu alur penghidupan dari Pariwisata.Daripada menjual kebohongan terhadap Wisatawan,yang kita sama sama tahu akan dampaknya kedepan.Kami dari pengurus Pramuwisata lokal sejak lama berupaya di dalam pembinaan terhadap pramuwisata yang masih NAKAL.Dan sampai hari ini Kenakalan kenakalan sudah bisa di Arahkan dalam bentuk Pelayanan yang Optimal sebagai Pemandu Lokal.kami akui pula kendala atupun kenakalan kecil karena kesalah pahaman masih terjadi.Kami berupaya terus dalam pembinaan melalui pendekatan secara individual dengan meraka.Melalui tulisan ini pula kami harapkan peran serta Pemkab karangasem melalui Dinas terkait agar ikut andil dalam pembinaan.Karena dari beberapa tahun terahir sama sekali tidak ada pembinaan ke lapangan dari pihak Pemkab Karangasem.seolah olah terkesan hanya pemungutan restribusi saja yang ada.timbal balik dari pemungutan belum ada sama sekali.Baik berupa Pembinaan maupun Sarana penunjang untuk peningkatan kunjungan.Karena trotoar jalan akses ke pura Besakih dari parkir manikMas masih rusak sampai saat ini.sungguh sangat eronis..



Terlepas dari itu, mudah-mudahan Kunjungan Bapak Presiden SBY membawa dampak yang baik kedepan.Dan orang orang lebih Terbuka hatinya di dalam melihat BESAKIH secara keseluruhan!

Read more..


BESAKIH DAN YADNYA
Ini Merupakan penjelasan singkat
mengenai Upacara/yadnya yg di
laksanakan di pura Besakih. Yang
mana Sistem upacara umat Hindu
di Bali,utamanya upacara2 besar
seperti Panca Balikrama,Eka Dasa
Rudra dan yg lainya di
selenggarakan pada saat Terpilih
dan juga Tempat yg terpilih. Ketika
matahari dan bulan tepat diatas
khatulistiwa garis yg membelah
Bumi,ini adalah waktu yg terpilih
untuk melaksanakan Karya Agung
Panca Balikrama maupun Eka Dasa Rudra. Karya Agung ini
dimagsudkan untuk
mengharmoniskan segalat Unsur
yg membangun jagatraya atau
Alam semesta beserta isinya. Dan
sehari setelah upacara besar itu
umat Hindu memasuki Tahun Baru
Saka.
Ada landasan filosofis atau Tattwa
yg mendasari Upacara Agung
tersebut,yaitu Konsep Panca Maha
Bhuta, Panca Tanmatra,Panca
Giri,Panca Indria dan yg lainya.
Sebelum melaksakan upacara
Agung tessebut,Landasan tattwa ini
di harapkan di pahami terlebih
dahulu. Dengan demikian
pelaksanaan upacara Agung itu
terasa bermakna dan penuh Arti.
Upacara Agung seperti Panca
Balikrama maupun Eka Dasa Rudra
pada hakekatnya dimagsud untuk
menegakkan nilai2 kesucian lalu
membangun keharmonisan jagat
yg di sebut sebagai Jagathita,
Bhuta hita, Sarwa Prani Hita.
semua hal tersebut di harapkan
memberikan Kerahayuan kepada
umat Manusia yg menempati Bumi
ini,serta yg berada Di Jagatraya ini.
Semoga Jagatraya 'Sarwa Prani'
memberikan 'Prana' atau Energi
positif,serta Kerahayuan kepada
umat Manusia dan Seisi Alam.


PANCA BALIKRAMA


Bertepatan
dengan Tilem Caitra/ Tilem
Kasanga saka 1930, tgl 25 maret
2009 Umat Hindu Indonesia
kembali menggelar Karya Agung
Panca Bali Krama. Upacara Agung
ini di gelar sepuluh tahun sekali.
Yaitu pada 'Tilem caitra' ketika
tahun Saka berahir dengan 0, atau
rah Windhu. Upacara ini di gelar di
kaki Gunung Agung, di bencingah
Agung Pura Besakih. Di tempat yg
sama telah beberapa kali di gelar
Tawur Agung di antaranya pd
tahun 1933, 1960 dan 1978. Karya
Agung Panca Bali Krama yg di
selenggarakan pd saat itu lebih
sebagai karya Paneregteg. yaitu
upacara yadnya yg di
selenggarakan karena telah cukup
lama karya tersebut tidak di Gelar.
Seperti halnya Karya Agung Eka
Dasa Rudra yg diadakan pada
tahun 1963 adalah yadnya
Peneregteg, karya yg semestinya
diadakan setiap seratus tahun
sekali itu. Pada saat tahun saka
berahir 00. Atau rah windu tenggek
windu.. Yg mana karya tersebut
sudah tidak diadakan lagi...


Panca Bali Krama...


Karya Agung Panca Bali
Krama yg jatuhnya
bertepatan dg rah windhu
telah di laksanakan pd tilem
Caitra th Saka 1910 (8 maret
1989) dan Saka 1920 (17
maret 1999) dan Saka 1930
( maret 2009). Sedangkan
pada Saka 1900 (maret 1979)
Karya Agung Eka Dasa Rudra
di gelar sesuai dg petunjuk
Lontar 'Indik Ngeka Dasa
Rudra'.yg mana di jadikan
pegangan di dalam
penyelenggaraan upacara
tersebut. Yaitu di
selenggarakan pada tahun
Saka berahir dg windu Turas
atau Rah Windhu Tenggek
Windhu. Disebutkan pula besar
sekali terjadinya perubahan
Alam/ jagat,maka saat itu di
pakai atau di pilih untuk
melaksanakan Tawur Jagat di
BALI.. Yaitu setiap sepuluh
tahun di sebut Panca Bali
Krama/ Panca Wali Krama di
Besakih. setelah Panca Bali
Krama sepuluh kali disebut
Windhu Turas,barulah
mengadakan Eka Dasa Rudra,
di sebut juga Rah Windhu
Tenggek Windhu.
Upacara Agung Eka Dasa Rudra
terangkai secara utu h dg
upacara Candi Narmada di
selenggarakan pd th 1993.
Panca Bali Krama Ring Danu
pd th 1993 ,Karya Agung
Tribuana pd th 1993,dan
Karya Agung Eka Buana pd th
1996. Dengan demikian
upacara Eka Dasa Rudra dan
Panca Bali Krama diadakan
setiap kurun waktu tertentu.
Tetapi Panca Bali Krama dapat
juga diadakan pd saat2
tertentu sesuai dengan
keperluan. Oleh karena ada
beberapa Jenis Panca Bali
Krama...




Karya Agung Panca Bali Krama


yg jatuhnya bertepatan dg rah windhu telah di laksanakan pd tilem Caitra th Saka 1910 (8 maret 1989) dan Saka 1920 (17 maret 1999) dan Saka 1930 ( maret 2009). Sedangkan pada Saka 1900 (maret 1979) Karya Agung Eka Dasa Rudra di gelar sesuai dg petunjuk Lontar 'Indik Ngeka Dasa Rudra'.yg mana di jadikan pegangan di dalam penyelenggaraan upacara tersebut. Yaitu di selenggarakan pada tahun Saka berahir dg windu Turas atau Rah Windhu Tenggek Windhu. Disebutkan pula besar sekali terjadinya perubahan Alam/ jagat,maka saat itu di pakai atau di pilih untuk melaksanakan Tawur Jagat di BALI.. Yaitu setiap sepuluh tahun di sebut Panca Bali Krama/ Panca Wali Krama di Besakih. setelah Panca Bali Krama sepuluh kali disebut Windhu Turas,barulah mengadakan Eka Dasa Rudra, di sebut juga Rah Windhu Tenggek Windhu.

Upacara Agung Eka Dasa Rudra terangkai secara utu h dg upacara Candi Narmada di selenggarakan pd th 1993. Panca Bali Krama Ring Danu pd th 1993 ,Karya Agung Tribuana pd th 1993,dan Karya Agung Eka Buana pd th 1996. Dengan demikian upacara Eka Dasa Rudra dan Panca Bali Krama diadakan setiap kurun waktu tertentu. Tetapi Panca Bali Krama dapat juga diadakan pd saat2 tertentu sesuai dengan keperluan. Oleh karena ada beberapa Jenis Panca Bali Krama...










JENIS PANCA BALIKRAMA



* Panca Balikrama yg diadakan pd saat tahun Saka berahir dg "0" rah windu. Atau menjelang pesalin rah tunggal,misalnya pd tahun Saka 1910,1920 dst
* . Panca Balikrama Peneregteg diadakan tidak terikat dg rah windhu,tetapi di laksanakan karena sudah sangat lama tidak diadakan.
* Panca Balikrama yg diadakan karena terjadinya bencana alam yg bertubi tubi.
* Panca Balikrama yg diadakan di tempat tempat tertentu di luar pura Agung Besakih. Upacara ini diadakan antara lain untuk menyucikan wilayah tertentu atau karena terjadinya bencana alam di wilayah tersebut
* Panca Balikrama Ring Danu adalah Panca Balikrama yg diadakan di danau,biasanya di pilih danau yg terbesar. Serangkain dg upacara Candi Narmada di Samudra. Upacara itu seharusnya di laksanakan sebelum diadakan Karya Agung Eka Dasa Rudra.
Read more..

Category: , | 0 Comments


Pura (temple) Penataran Agung is the central and largest of the Besakih temples. It is a terraced sanctuary containing 57 shrines and pavilions. There are consists of seven terraces have structures built upon them, the seven terraces in accordance with the Hindu doctrine of the seven level of the world (Sapta Petala).

Terrace I
This is reached by a long flight of steps flanked by rows of statues, those to the left being heroes of the Mahabharata epic, those to the right of the Ramayana. They were carved around 1935 by a group or artisans from Sukawati-Gianyar under the leadership of I Kolok.
(1) Candi Bentar : split gate, flanked by a pair of doorkeepers.
(2) Bale Pegat : a pavilion containing a pair of platforms separated by passageway, which symbolizes the cutting of the connection with the everyday material world.
(3) – (4) Bale Kulkul : pavilions for the wooden slit-gongs sounded at festival times.
(5) Bale Palegongan and
(6) Bale Pagambuhan : pavilions for dances (Legong, Gambuh etc) performed at festival times.

Terrace II
(7) – (8) Bale Ongkara (or Bale Mundar-Mandir) : pavilions consisting of just one central post. Ongkara is the sacred syllable ONG or OM. They remind the worshipper to purify his mind before proceeding through the main gateway.
(9) Kori Agung : covered gateway with finely carved wooden doors, separating the first courtyard from the main courtyard where major ceremonies are centered.
(10) Bale Gong : pavilion for the gamelan orchestra. Formerly here sat the king of Klungkung and other dignitaries when they visited the temple; important guests are stilled seated here.
(11) Bale Kembangsirang : a large pavilion of 16 posts with platforms in each corner. The important mapeselang ritual is held here.
(12) Padma Capah : an open throne dedicated to Ida Ratu Sula Majemuh, lord over the weather.
(13) Bale Paruman Alit : note the stone lingga inside this pavilion.
(14) Meru, 9 roofs pagoda : dedicated to Sanghyang Kubakal, in one interpretation the lord over the materials used inceremonies.
(15) Meru, 11 roofs pagoda : dedicated to Ratu Manik Maketel, a symbol of the mobilization of energy.
(16) Bale Pesamuan Agung : this long high pavilion is the meeting place of the Gods at festival times, represented by their statues or other object (Pratima).
(17) Bale Pepelik : dedicated to Ida Ratu Sanghyang Siyem.
(18) Bale Tegeh : dedicated to Bhatara Mpu Bradah, a famous priest of the early 11th century.
(19) PadmaTiga : the Triple Lotus Shrine, the most important shrine in the whole Besakih complex, where one pays homage to Sanghyang Widhi Wasa (The God) in His manifestation as Tripurusa (Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa). It consists of three padmasana on common base that carriers the picture-date Saka 1889 (1967 AD) the date of its restoration following the 1963 eruption. The padmasana was introduced into the Balinese temple by the priest Nirartha in the 16th century.
(20) Bale Pepelik : pavilion for offerings
(21) Bale Agung : a very long pavilion of 24 posts associated with Sanghyang Iswara and the heavenly hosts. It is also used for meetings and making offerings.
(22) Bale Kawas : intimately related to the bale agung and to the official Besakih pemangku (temple priests). It is dedicated to Ida Bhatara Ider Buwana.
(23) Panggungan : pavilion for offerings.
(24) Bale Pawedan : the pavilion where high priests (padanda) of triple Siwa, Buddha, and Bhujangga sects sit to perform their ritual of preparing holy water. On account of its size it is often called Bale Gajah (elephant pavilion).

Terrace III
(25) Meru,5 roofs pagoda : honoring I Gusti Dauh
(26) Meru, 7 roofs pagoda : honoring Ida Bhatara Tulus Dewa
(27) Meru, 5 roofs pagoda : honoring Ida Bhatara Panataran
(28) Meru, 3 roofs pagoda : honoring Ida Bhatara Suka Luwih
(29) – (30) Gedong : honoring I Gusti Teges and I Gusti Hyang Angantiga, numbers (25) – (30) are padharman shrines honoring the deified spirits of actual persons. The upkeep of these shrines is in the hands of the Sidemen princely house which has an intimate relation with Besakih.
(31) – (32) Panggungan : structures to hold offerings in connection with ceremonies at the preceding group of padharman shrines.
(33) Bale Pepelik : pavilion for offerings.
(34) Meru, 11 roofs pagoda : dedicated to Ida Ratu Maspahit. This meru is unusual in having doors on all four sides.
(35) Kehen, 3 roofs pavilion : this is the temple’s storehouse where such sacred objects as the two wooden inscription are kept. Only pemangku may enter, A Kehen differ from a Meru in being built on a rectangular rather than a square plan. Such structures are mostly confined to a few temples in Bangli and western Karangasem regencies.
(36) Meru, 7 roofs pagoda : dedicated to Bhatara Geng or Sanghyang Aji Saraswati, Hindu goddess of science and learning.
(37) Bale Pepelik and
(38) Gedong : these two shrines are the ancestral shrines of the Pasek Brejo clan at Besakih.
(39) Bale Pepelik : two ancient statues are kept here; the upper half of human figure associated with the priest Nirartha; and a man riding a horse where, in former days, a warrior sent on duty by his lord would come to worship.
(40) Bale Pepelik and
(41) Gedong : the ancestral shrines of the Pasek Kayu Selem clan at Besakih.

Terrace IV
(42) Gedong : dedicated to Ida Ratu Ayu Subandar, lord over mechants, especially those in sea-born trade.
(43) Gedong : dedicated to Ida Ratu Ulang Alu, lord over itinerant peddlars.
(44) Bale : a simple structure sheltering two pairs of ancient statues of male and female deities, each with four arms. These are said to represent Sanghyang Surya-Candra, literally Sun-Moon. The statues date from about the 12th century.
(45) Meru, 11 roofs pagoda : dedicated to Ida Ratu Sunaring Jagat (Lord Radiance of the World), an aspect of Sanghyang Widhi in his power of lighting the world.
(46) – (48) Bale Tegeh : dedicated to the heavenly courtiers and nymphs (widadara-widadari).
(49) Bale Pepelik : pavilion for offerings.
(50) Bale Pepelik : dedicated to Ida Ratu Ngelesung, associated with the rice-pounding block.
(51) Bebaturan, dedicated to Ida Ratu Sedahan Panginte.

Terrace V
(52) Meru, 3 roofs pagoda : dedicated to Ida Ratu Ayu Mas Magelung, goddess of performing arts. Dance and music groups sometimes worship here.
(53) Meru, 11 roofs pagoda : dedicated to Sanghyang Wisesa, manifestation of Sanghyang Widhi as lord of spiritual powers. Many people who visit Besakih pay homage here after worshiping at the Padma Tiga.
(54) – (55) Bale Pepelik : pavilion for offerings.

Terrace VI
(56) – (57) Gedong : there is a beautiful simplicity about this upper terrace that seems to reflect back to ancient mountain worship. The shrine to the left is dedicated to Ida Ratu Bukit Kiwa (Lord of Left Mountain) or Ida Ratu Pucak (Lord of the Summit); that to the right to Ida Ratu Bukit Tengen (Lord of Right Mountain) or Ida Ratu Pemeneh. In philosophical terms this pair of shrines symbolizes the doctrine of dualism (rwa-bhineda) that characterizes all creation.

Terrace VII
The very narrow empty terrace at the top of the Penataran Agung Temple, it symbolizes above spaces or the uncreated state.

The terraces and the gods honored therein, according to one interpretation, may be likened to a story or history of the creation of the world. Terrace VII symbolizes the uncreated state. Terrace VI symbolizes the two principles that underlay all creation. Terrace V symbolizes the energy or force that arises from the conjunction of these two principles. Terrace IV symbolizes the forces that shine upon and give life to the world, with the support of the gods and heavenly hosts. Terrace III symbolizes the support that religious teachings receive from holy men and priests others who have rendered service. Terrace II symbolizes the worship that man offers unto God and where he receives God’s grace and blessing, and so it is here that ceremonies are centered. Terrace I symbolizes the need for man to purify himself when he comes into the presence of the gods.

Source: Pura Besakih and Once a Century
Read more..


Di jajaran belakang Padma Tiga dan di depan Balai Pesamuan terdapat tiga pelinggih berjejer. Pelinggih itu umum menyatakan berbentuk gedong, tetapi menurut pendapat penulis itu adalah Pelinggih Meru Tumpang Siki. Pelinggih yang di tengah sebagai pemujaan Mpu Beradah, di kirinya Pelinggih Sang Hyang Siem dan yang di kanan untuk Danghyang Markandia. Tiga pandita ini berbeda paksa, sampradaya atau sektanya.

Mpu Beradah sebagai Pandita Siwa, Sang Hyang Siem adalah dari Budha dan Resi Markandia adalah Bujangga Waisnawa. Tiga pandita atau resi ini nampaknya sebagai perwujudan konsep Sang Tri Bhuwana Katon yang dinyatakan dalam Lontar Eka Pratama. Maksud Sang Tri Bhuwana Katon ini adalah beliau yang suci yang nampak di bumi ini untuk memimpin umat manusia.Kemungkinan besar konsep Sang Tri Bhuwana Katon ini yang disebut Tri Sadhaka. Kata ''sadhaka'' artinya orang yang mampu melakukan sadhana yaitu merealisasikan atau mewujudkan kesucian dharma pada dirinya. Kata sadhaka berasal dari kata sadhana yang artinya kegiatan merealisasikan dharma dalam diri. Kalau sudah berhasil barulah disebut sadhaka.
Kalau kita perhatikan makna yang terkandung dalam Lontar Ekapratama tersebut bahwa keberadaan tiga pandita Siwa, Budha dan Bujangga Waisnawa itu sebagai ciptaan Tuhan untuk memimpin umat manusia memelihara kelestarian tiga lapisan bhuwana ini yaitu Bhur, Bhuwah dan Swah Loka.

Pada zaman modern sekarang ini tiga lapisan alam itu setiap hari dijejali oleh perbuatan manusia yang dapat mengotori tiga lapisan alam tersebut. Di Bali khususnya dan di Indonesia umumnya setiap Sasih Kesanga ada upacara Melasti dan upacara Tawur Kesanga di selenggarakan oleh umat Hindu. Upacara tersebut untuk mengingatkan umat agar dalam hidupnya ini senantiasa menegakkan upaya memuja Tuhan untuk menegakan Rta dan Dharma.

Kalau keberadaan alam selalu sesuai dengan Rta maka alam itu akan menjadi sumber penghidupan umat manusia sepanjang zaman. Demikian pula kalau dharma selalu tegak sebagai dasar kehidupan bersama dalam masyarakat maka manusia pun akan selalu dapat mewujudkan kebersamaan yang baik sebagai lingkungan sosial yang dinamis, harmonis dan sinergis. Pemujaan Tuhan untuk tegaknya Rta dan dharma inilah sesungguhnya aplikasi Tri Hita Karana.

Pemujaan Tuhan untuk tegaknya Rta menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alamnya. Sedangkan pemujaan Tuhan untuk tegaknya dharma akan menciptakan hubungan harmonis antara manusia dengan sesama manusia. Artinya pemujaan Tuhan yang menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan itu untuk Rta dan dharma.

Saat diselenggarakannya Tawur Kesanga untuk ditingkat propinsi ada tiga pandita yang mapuja. Tiga pandita inilah yang disebut oleh masyarakat umum Tri Sadaka. Pandita Siwa memuja untuk memohon kepada Tuhan agar umat dituntun untuk tidak berbuat sesuatu yang dapat mengotori akasa. Pandita Budha memuja untuk memohon kepada Tuhan demi kebersihan lapisan atmosfir. Sedangkan Pandita Bujangga memuja Tuhan untuk kesejahteraan sarwaprani.

Tiga lapisan alam ini sesungguhnya tidak terpisah-pisah adanya satu sama lain saling tergantung. Kalau salah atau lapisan yang rusak akan dapat merusak lapisan yang lain. Nampaknya pembuatan pelinggih untuk pemujaan tiga pandita ini didasarkan oleh Lontar Eka Pratama yang dikutip di atas.

Dari penempatan tiga pelinggih untuk tiga resi atau pandita itu dapat diambil sebagai suatu teladan bagi umat Hindu terutama yang ada di Bali bahwa tiga resi itu sebagai penuntun umat dalam mengembangkan pembinaan kehidupan alam dan manusia secara seimbang. Tiga pandita resi itu adalah sebagai Adi Guru Loka artinya sebagai guru yang utama dari masyarakat.

Pemujaan pada tiga sadhaka inilah sebagai suatu peringatan pada umat untuk berguru dalam menjaga kelestarian ibu pertiwi dengan enam hal. Enam hal yang harus dilakukan untuk menjaga tegaknya kelestarian ibu pertiwi dinyatakan dalam Atharvaveda XII.1.1.Ena hal itu adalah ''Satya. Rta, Tapa, Diksa, Brahma dan Yadnya. Umat pada umumnya dalam melakukan upaya melakukan enam hal menjaga ibu pertiwi atau Sad Pertiwi Daryante. Hendaknya senantiasa memohon tuntunan tiga macam pandita tersebut. Memohon tuntutan untuk menjaga kelestarian akasa, kebersihan udara dari polusi (amratistha pawana) dan menjaga kelestarian sarwaprani.

Satya adalah adalah sikap hidup yang konsisten dan konsekuen bertindak berdasarkan kebenaran dan kejujuran (Satya). Rta adalah perilaku yang menjaga kesejahteraan alam, Tapa adalah perilaku membina ketahanan diri untuk melawan binakinya hawa nafsu. Diksa adalah suatu upaya untuk terus berupaya mencapai kehidupan suci sampai mencapai status Dwijati.

Artinya tidak hanya lahir dari rahim ibu saja, tetapi bisa lahir dari rahimnya Weda melalui tuntunan pandita atau resi. Brahma artinya selalu berdoa dan belajar dengan tekun. Doa dengan mengucapkan mantra-mantra Veda tersebut dapat menguatkan eksistensi Dewi Sampad atau kecenderungan kedewaan.

Yadnya adalah sikap hidup yang senantiasa tulus dan ikhlas untuk rela berkorban demi tujuan yang lebih mulia. Enam hal itulah yang wajib dilakukan oleh umat atas tuntunan tiga pandita resi untuk menjaga agar Sad Pertiwi Daryante itu terlaksana dengan baik.

Source: Hindu Forum by I Ketut Gobyah
Read more..


Beberapa meter di bawah Candi Bentar Pura Penataran Agung Besakih terdapat salah satu kompleks Pura Besakih yang bernama Pura Basukian. Pura ini tepatnya berada di kanan jalan menuju Pura Penataran Agung Besakih. Pura inilah sesungguhnya sebagai kompleks pura yang pertama berdiri di Pura Besakih.

Pura Basukian ini ada hubungannya dengan perjalanan seorang Pandita dari Gunung Raung Jawa Timur menuju Bali. Dalam cerita tersebut dinyatakan bahwa orang suci bernama Dang Hyang Markandia mengadakan perjalanan suci ke Pulau Bali bersama dengan ratusan orang pengikutnya.

Sampai di Bali rombongan transmigrasi tersebut mengadakan usaha pertanian dengan merabas hutan seperlunya untuk diolah menjadi lahan pertanian. Entah apa sebabnya sebagian besar pengiring Dang Hyang Markandia jatuh sakit dan meninggal. Karena itu, Dang Hyang Markandia kembali ke Jawa Timur mohon petunjuk gurunya, Hyang Pasupati. Setelah mendapat petunjuk dari gurunya Dang Hyang Markandia kembali lagi ke Bali bersama kurang lebih 800 orang pengikutnya.Sesampai di Bali rombongan tersebut tidak langsung mengembangkan lahan pertanian. Sebelumnya dilakukan upacara keagamaan lengkap dengan sesajinya yang disebut bebali. Inti pokok upacara tersebut adalah menanam lima jenis logam yang disebut Panca Dhatu. Lima jenis logam itu adalah emas, perak, besi, tembaga dan permata.

Setelah dilangsungkan upacara keagamaan memuja Dewa Wisnu dalam menipestasinya sebagai Dewa Air (Naga Basuki) itu barulah usaha mengembangkan lahan pertanian dan pemukiman yang bercorak agraris dilanjutkan. Ternyata usaha mengembangkan kehidupan agraris itu berhasil dengan baik. Hal itulah sebagai awal terbentuknya istilah desa di Bali. Desa itu pemukiman yang bercorak agraris yang religius Hinduistis.

Selanjutnya tempat upacara menanam Panca Dhatu itu didirikan tempat pemujaan yang diberi nama Pura Basukian sampai sekarang. Pemberian nama Basukian ini dimaksudkan untuk memohon basuki kepada Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Mahakuasa. Kata ''basuki'' dalam bahasa Jawa Kuna artinya selamat. Dalam lontar pun disebutkan ''basuki ngaran rahayu'' artinya basuki artinya selamat. Mungkin karena setelah dilakukan upacara menanam Panca Dhatu rombongan Dang Hyang Markandia selanjutnya selamat keadaannya.

Bangunan suci yang paling utama di pura ini adalah Meru Tumpang Pitu sebagai stana memuja Sang Hyang Naga Basuki yaitu naga penjelmaan Dewa Wisnu sebagai dewanya air. Air itulah yang menyebabkan suburnya lahan pertanian. Meru Tumpang Pitu itu menggambarkan tujuh lapisan bumi ke bawah yang disebut dengan Sapta Patala.

Sang Hyang Naga Basuki dan Ananta Bhoga ini yang diyakini sebagai dewanya tujuh lapisan bumi yang disebut Sapta Patala itu. Meru Tumpang Pitu ini diapit oleh Bale Papelik yaitu bangunan beratap dengan tiang empat sebagai tempat meletakkan sesaji atau banten persembahan. Mengapa bangunan utama umumnya disertai dua Bale Pepelik.
Hal ini menggambarkan bahwa menyembah Tuhan itu haruslah seimbang antara persembahan yang bersifat rohaniah dan yang bersifat jasmaniah. Umat Hindu di Bali menyebutnya persembahan Sekala dan Niskala atau Wahya dan Adyatmika.

Pemberian nama Basukian pada pura ini mungkin juga untuk mengenang asal rombongan dari Jawa Timur dari daerah Basuki dekat Gunung Raung. Pura ini pada awalnya dirawat oleh pengikut Dang Hyang Markandia. Pengikut Dang Hyang Markandia itu mendirikan tempat pemujaan di jaba tengah areal Pura Basukian.

Tempat pemujaan keluarga itu disebut Merajan Wong Bali Mula. Di jaba tengah atau areal bagian tengah ini terdapat bangunan suci berupa Kamulan Rong Tiga yaitu bangunan suci berruang tiga sebagai pemujaan Kawitan orang Bali Mula pengiring Dang Hyang Markandia dari daerah Basuki, Jawa Timur di lereng Gunung Raung.

Dewasa ini Pura Basukian sudah direhab dan arealnya sedikit diperluas sehingga keberadaan Pura Basukian sudah jauh lebih indah daripada sebelumnya. Upacara piodalan-nya dilakukan setiap 210 hari sekali yaitu setiap hari Rabu Wuku Klawu. Upacara piodalan itu bagaikan hari ulang tahun dengan mengadakan upacara khusus setiap enam bulan wuku. Umat Hindu di Bali memiliki perhitungan hari dengan sistem wuku.

Satu wuku lamanya tujuh hari. Satu bulan wuku sebanyak lima wuku. Jadinya satu bulan wukulamanya 35 hari. Wuku jumlahnya 30. Setiap wuku akan kembali berulang setiap 210 hari. Karena itu upacara piodalan di Pura Basukian setiap 210 hari yaitu setiap hari Rabu atau Budha Wage wuku Klawu. Budha Wage wuku Klawu itu dalam tradisi Hindu di Bali adalah hari keuangan. Maksudnya adalah hari untuk memuja Tuhan sebagai Batara Sri Sedhana. Dewi Sri itu adalah saktinya Dewa Wisnu yaitu dewa kemakmuran. Tujuh lapisan bumi ini akan menjadi sumber kemakmuran kalau ada air yang meresap ke dalam tanah sesuai dengan hukum alam.

Melaui Pura Basukian itulah umat Hindu di Bali terus-menerus diingatkan agar tidak merusak sumber-sumber air di muka bumi ini. Antara air dan pohon-pohonan itu saling tergantungan. Karena itu dalam kutipan Mantra Weda tersebut di atas amat dilarang mencemari air dan merusak pohon-pohonan. Karena air dan pohon-pohonan itu adalah dua di antara tiga Ratna Permata Bumi yang dinyatakan dalam Canakya Nitisastra.


Source: BaliPost by I Ketut Gobyah
Read more..